Metodologi Penelitian


1. Manusia dan Masalahnya Dalam hidupnya manusia selalu menghadapi berbagai masalah.Jarang orang yang dapat melewatkan waktu barang sehari tanpa menghadapi masalah,baik besar ataupun kecil.Banyak masalah yang sudah dihadapi di waktu yang lalu yang kemudian timbul lagi sekarang dan di masa-masa akan datang. Orang yang mempunyai banyak pengalaman umumnya dapat memecahkan masalah dengan lebih mudah dari pada orang yang memiliki sedikit pengalaman. Pengalaman memang merupakan pengetahuan yang sangat berharga bagi manusia dalam menjalani hidupnya sehari-hari, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatanya, baik dalam lapangan social, politik, ekonomi, ataupun yang lain. Pengalaman orang memang sangat terbatas, baik jenis maupun banyaknya. Namun demikian orang dapat mengisi kekurangannya, memperluas cakrawala pengalamannya dengan pengalaman-pengalaman orang lain sehingga pengetahuan menjadi semakin luas. Apa yang di sebut ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman sejumlah orang dan kemudian dipadukan secara harmonis dalam satu bangunan yang teratur. Orang dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari ilmu pengetahuan justru oleh karena ilmu pengetahuan disusun dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan yang telah diuji kebenaranya. Dengan melepaskan unsur-unsur, yang unik, yang sangat khusus, ilmu pengetahuan kemudian menjadi sesuatu yang mempunyai nilai yang umum, yang oleh karena persoalan-persoalan yang dihadapi manusia seringkali mempunyai garis-garis yang umum, maka sumbangan ilmu pengetahuan untuk memecahkan persoalan-persoalan hidup sehari-hari menjadi semakin nyatadan semakin tak ternilai harganya. Kesulitan-kesulitan dalam menghadapi suatu masalah pada pokoknya bersumber pada dua sebab. Pertama, orang kurang atau tidak tahu cara memecahkan masalah itu. Kedua, orang kekurangan fakta-fakta yang berbubungan dengan masalah itu. Yang pertama disebut kekurangan formal atau metodologis, sedang yang kedua disebut kekurangan material. Ada dua cara yang umum ditempuh untuk mendapatkan pemecahan atas suatu masalah, yaitu ; 1) Cara berfikir analitik, dalam hal ini orang berangkat dari dasar-dasar pengetahuan yang umum 2) Cara berfikir sintetik, dalam hal ini orang berangkat dari dasar-dasar pengetahuan yang khusus 2. Riset dan Tujuannya Suatu riset, khususnya didalam ilmu-ilmu pengetahuan empiris, Pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran suatu pengetahuan. Menemukan berarti berusaha mendapatkan sesuatu untuk mengisi kekosongan atau kekurangan. Mengembangkan berarti berusaha mendapatkan sesuatu untuk menggisi kkekosongan atau kekurangan. Riset yang bertujuan menemukan problem-problem baru biasanya disebut riset ekploratif. Riset yang khusus dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan yang sudah ada dinamakan riset pengembangan (developmental research). Sedang riset yang ditujukan untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan disebut riset verifikatif 3. Jenis-jenis riset Secara umum jenis-jenis penggolongan adalah sebagai berikut: 1. Penggolongan menurut bidangnya: • Riset pendidikan • Riset sejarah • Riset bahasa • Riset ilmu teknik • Riset ekonomi, dsb 2. Penggolongan menurut tempatnya: • Riset laboratorium • Riset perpustakaan • Riset kancah 3. Penggolongan menurut pemakaiannya: • Riset murni • Riset terpakai 4. Penggolongan menurut tujuan umumnya • Riset eksploratif • Riset pengembangan • Riset verifikatif 5. Penggolongan menurut tarafnya: • Riset deskriptif • Riset inferensial 6. Penggolongan menurut pendekatannya: • Riset longitudinal • Riset cross-sectional 4. Perkembangan Metodologi Riset Menurut tujuannya, riset dapat didefenisikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Ilmu yang membahas metode-metode ilmiah yang digunakn untuk riset disebut metodologi riset Proses untuk mencapai taraf seperti sekarang ini telah memakan waktu yang sangat panjang dan melewati beberapa tingkatan. Rummel menggolongkan taraf perkembangan metodologi rist kadalam empat periode, yaitu 1. Periode trial and errol Dalam periode ini ilmu pengetahuan mesih dalam taraf embrional, orang tidak menggunakan dalil-dalil deduksi yang logis sebagai mana diperlukan untuk menyusun suatu ilmu pengetahuan 2. Periode authority and tradition Dalam periode ini pendapat-pendapat dari “pemimpin-pemimpin” di masa lampau selalu dikutip kembali. Pendapat-pendapat itu dijadikan doktrin yang harus di ikuti dengan tertip tanpa kritik 3. Periode speculation and argumentation Doktrin doktrin yang disodorkan dengan penuh semangat dan keyakinan oleh tokoh-tokoh pengusaha mulai di pertanyakan. Dengan ketajaman dialektika dan ketangkasan berbicara orang ulai berkelompok, melakukan diskusi dan debat untuk mencari kebenaran. Spekulasi dilawan dengan spekulasi dan argument asi dilawan dengan argumentasi. Kita catat minsalnya betapa teori Darwin tenteng natural selection dan the survival of the fittes menimbulkan argumrntasi yang sangat tajam dan berlarut-larut dan masing-masing pihak mengajukan alas an-alasan yang berbeda-beda. 4. Periode hypothesis and experimentation Orang mulai berudaha sekeras-kerasnya untuk mencari rangkaian aturan-aturan itu untuk menerangkan suatu kejadian. Mula-mula orang menggunakan ketajaman pikirannya untuk membuat dugaan (hipotesis) dan kemudian mengumpulkan fakta-fakta. Dari fakta-fakta itu ditarik kesimpulan-kesimpulan itu selalu tidak cocok dengan dugaan semula. Analisis dilakukan dengan sangat hati-hati, cermat, dan tajam terhadap terhadap fakta-fakta yangdiperoleh dari hasil eksperimen. Dokumen-dokumen sejarah observasi. Umumnya orang menggunakan ala-alat ukur yang teliti, mempermainkan symbol-simbol yang dapat diperlakukan secara metematis. Dengan konsep-konsep yang matang kemudian mencoba untuk menginterpretasi dan menarik konklusi-konklusi yang cermat. Syarat-syarat yang biasanya diajukan adalah: a. Penelitian harus kompeten, yang secara teknik menguasai dan mampu menyelenggarakan riset secara ilmiah. b. Peneliti harus objektif, tidak mencampur adukkan antara pendapat sendiri dan kenyataan. c. Peneliti harus jujur, mampu mengendali diri untuk tidak memasukan keinginan pribadi kedalam fakta-fakta. d. Peneliti harus factual, tidsak bekerja tampa fakta. e. Peneliti harus terbuka, bersedia member bukti-bukti atau member kesempatan kepada orang lain untuk menguji kebenaran dari proises atau hasil penelitian. Periodisasi perkembangan metodologi seperti yang dikemukan diatas belumlah merata disemua Negara. Bahkan sidatu degarapun, perbedaan yang tegas tampa overlapping tidak mudah diamati. Keadaan semacam itu dapat dipahami karna perkembangan tidak selalu berjalan decara serempak di semua tempat. 5. Riset dan Bsensi Berpikir Ilmiah Riset dapat sipandang sebagai the repeated search to the unknown. Dalam menjelajahi hal-hal yang belum diketahui ini orang menggunakan pengetahuannya, alat-alat yang dapat dipercaya, dan tata kerja yang tertentu yang terencana. Hal yang sama kita jumpai dalam proses berpikir yang matang. Dengan mengenal proses berpikir ini maka kita akan mengemal proses-proses esensial suatu riset. Jhon dewey² telah memberkan garis-garis besar dari apa yang disebut berpikir ilmiah. Ia membagikan dalam lima taraf, yaitu (1) the felt need; (2) the problem; (3) the hypothesis; (4) collection of data as evidence; dan (5) concluding belief. Kelley³ melengkapi lima taraf berpikir ilmiah Dewey dengan satu taraf lagi, yaitu (6) general value of the conclusion. 1. The felt need. Alam taraf oemula orang merasakan sesuatu kesulitan untuk menyesuaikan alat dengan tujuannya, untuk menemukan cirri-ciri dari sesuatu objek, atau menerangkan sesuatu kejadian yang tak terduga. 2. The problem. Dengan menyadari persoalan atau masalahnya, seorang pemikir ilmiah kemudian berusaha menegaskan persoalan itu dalam bentuk perumudan masalah (problem statement). 3. The hypothesis. Langkah yang ketiga adalah mengajukan kemungkinan pemecahan atau mencoba menerangkannya. Hipotesis ini boleh didasarkan atas terkaan, kesipulan yang sanat sementara, teori-teori, kesan-kesan umum, atau ats apapun yang masih belum dipandang sebagai konklusifinal. 4. Collection of data as avidence. Bahan-bahan, informasi, atau bukti-bukti kemudian dikumpulkan dan melalui pengolahan-pengolahan yang logis mulai di uji untuk mendapatkan sesuatu gagasan tertentu beserta implikasi-implikasinya. 5. Concluding believe. Bertitik tolak pada bukti-bukti yang sudah diolah, suatu gagasan awal mungkin diterima mungkin juga ditolak. Dengan jalan analisis yang terkontrol (eksperimen) atas hipothesis-hipothesis yang diajukan kemudian disusunlah suatu keyakinan sebagai konklusi. 6. General value of the conclusion. Akhirnya, jika suatu pemecahan sudah dipandang tepat, maka disimpulkan implikasi-implikasinya untuk masa depan. Ini bias disebut sebagai refleksi yang bertujuan untuk menilai pemecahan-pemecahan baru dari segi kebutuhan masa mendatang. Pertanyaan yang ingin dijawab disini adalah “kemudian apa yang harus dilakukan?”. Ini kerapkali dikemukakan pada tahab terakhir pada suatu masalah. 6. Langkah-langkah Esensial Dalam Riset Kini tidak disangsikan bahwa langkah-langkah dalam suatu riset ilmiah sesuai dengan taraf-taraf atau langkah-langkah berpikir ilmiah, ditambah dengan perumusan-perumusan tertulis semua aktivitas yang dikerjakan oleh seorang peneliti. Dengan memahami langkah-langkah pokok yang umum dipakai maka kita akan mendapatakan gambaran yang jelas tentang apa-apa yang harus dipersiapkan dalam menyelenggarakan suatu riset. Langkah-langkah esensial dalam suatu riset dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Menetapkan objek atau pokok persoalan. Tidak ada satu risetpun tampa objek. Oleh sebab itu wajar bahwa menetapkan objek atau pokok persoalan menjadi langkah yang pertama. Penetapan objek tidak hanya memberi isi dan menetapkan arah kegiatan dalam penyelenggaran riset, tapi yang tidak kurang pentingnya adalah dalam banyak hal objek itu mengharuskan penggunaan metodelogi tertentu yang dipandang paling cocok untuk memecahkan persoalan. b. Membatasi objek atau pokok persoalan. Begitu suatu pokok persoalan sudah ditetapkan, langkah berikutnya adalah membatasi cakupan dan memberikan formulasi-formulasi yang tegas atas pokok persoalan itu. Bagi peneliti, batas-batas ini menjadi pedoman kerja, dan bagi orang lain kepada siapa laporan riset itu hendak diserahkan, pengesahan itu berfungsi untuk mencegah timbulnya kerancuan pengertian dan kekaburan wilayah persoalan. c. Mengumpulkan data atau imformasi. Hanya data atau imformasi yang berhubungan dari segi-segi tertentu dari pokok persoalan yang pelu dikumpulkan. Suatu nriset bukanlah aktivitas incidental dan trial and errol dengan jalan mengumpulkan apa saja yang dijumpai, melainkan suatu kegiatan yang terarah (purposeful) yang dengan sengaja mencari bahan-bahan yang telah ditentukan lebih dulu. Dengan begitu semua aktivitas dalam suatu riset dapat berjalan dengan terpimpin dan terselenggara dengan efektif dan efisien. d. Mengolah data dan menarik kesimpulan. Mengoilah berarti menyaring dan mengatur imformasi yang sudah masak. Jika riset dimaksud akan dilanjutkan ke tarf inferensial, maka penganalisisan, penginterpretasian dan penarikan kesimpulan harus melengkapi taraf ini. e. Merumuskan dan melaporkan hasilnya. Merumuskan adalah suatu pekerjaan tersendiri yang membutuhkan curahan tenaga dan kecakapan. Dan karena ilamupengetahuan pada umumnya dianggap sebagai milik bersama maka tidak ada ketentuan lain biasanya hasil penelitian itu dilaporkan kepada public untuk mereka gunakan atau mereka uji kembali kebenarannya. f. Mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Jika suatu riset dipersiapkan untuk suatu tesis atau disertai (lihat paragraph berikut), adalah suatu keharusan untuk mengetengahkan Implikasi-implikasi hsil penelitian tersebut. Dalam implikasi ini harus disebutkan konsekuensi-konsekuensi penting hasil penelitian dan juga rekomendasi untuk aktivitas-aktivitas di kemudian hari yang berhubungan dengan hasil-hasil itu, terutama untuk riset terpakai yang hasilnya dalam waktu yang dekat akan digunakan dalam praktik, yang mungkin berbeda keadaannya dengan riset yang hanya diperuntukan bagi penulisan suatu term paper atau field study. 7. Aneka Riset Di Perguruan Tinggi Saat study di perguruan tinggi seorang mahasiswa mungkin diminta untuk menyelenggarakan suatu riset untuk (1) term paper, (2) field study, (3) thesis, atau (4) disertasi. 1. Term Paper Ada macam-macam nama yang digunakan untuk menyebut term paper, misalnya report of reading, naskah semester, naskah persembahan, dan semacamnya. Adapun ciri-ciri paper atau naskah ini adalah : a. Ditulis untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat untuk menyelesaikan satu mata kuliah. b. Melaporkan apa yang sudah dan dapat diketahui oleh mahasiswa; tidak meminta penemuan-penemuan pengetahuan yang belum tersedia. c. Harus diselesaiakan dalam waktu yang terbatas dan ditulis menurut tata-tulis yang ditetapkan. d. Tidak dituntut untuk suatu pembahasan yang mendalam, namun tidak boleh merupakan kumpulan dari serangkaian kutipan mentah dari artikel-artikel atau buku-buku yang ditunjuk. Suatu term paper biasasnya tidak lebih dari suatu riset pustaka (library research). Judul atau pokok persoalannyaa mungkin diberikan oleh dosen, mungkin mahasiswa diminta memilih salah satu dari daftar topik, dan mungkin juga mahasiswa dapat memilih sendiri. Semuanya masih dalam lingkungan wilayah mata kuliah tertentu. Maksud dari pembuatan term paper pada umumnya ada empat, yaitu : a. Memberi kasempatan kepada mahasiswa untuk menguasai lebih mendalam mata kuliah yang ditempunya. b. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas cakrawala pandang atas mata kuliah yang ditempunya. c. Memberi kesempatan kepada dosen untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam mengumpulkan, mengatur, dan melaporkan bahan-bahan studi dalam tatasusunan yang logis. d. Menjadi bagian dari dasar-dasar pemberian nilai atas mata kuliah yang ditempuh. 2. Field Study Field study berbeda dengan term paper dalam tiga hal : a. Field study tidak menulis untuk memenuhi salah satu syarat dari suatu mata kuliah, melainkan jauh lebih luas, mengenai banyak hal yang berhubunagan dengan aspek-aspek spesialisasi, meliputi dari beberapa mata pelajaran. b. Field study tidak didasarkan atas riset pustaka (library research), melainkan atas riset lapangan (field research), riset yang dilakukan di tempat terjadinya gejala-gejala. c. Field study ditulis dalam bentuk laporan akademis. Tujuan umum field study adalah memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi persoalan-persoalan kongret dalam bidang studinya, hal mana sangat diperlukan dalam pekerjaannya di masa mendatang. Persiapan ini lebih dititikberatkan pada segi formal dari pada segi materialnya. Yang dipentingkan dalam field study bukanlah sumbangan penemuan baru, melainkan bagaimanan mahasiswa memandang dan menghadapi suatu persoalan kongret. Sudah tentu mahasiswa diharapkan dapat lebih mandiri dalam mengerjakannya daripada meminta pertolongan dan nasihat-nasihat dari pemimbing, konsultan, atau sponsor. Secara metodologis dia harus mampu mendemonstrasiakan cara-cara yang tepat dalam mengumpulkan data, penganalisis, dan menarik kesimpulan. Cara-cara mengutip pendapat dan mendokumentasikan pustaka harus dilakukan dengan tertib. 3. Thesis Thesis merupakan hasil riset yang lebih tinggi lagi tarafnya. Sama halnya dengan field study, thesis harus dilaksanakan secara tertib dan cermat secara metodologis. Akan tetapi lebih dari pada field study, thesis meminta sumbangan material, yaitu penemuan-penemuan baru dalam segi tata-kerja, dalil-dalil, atau tata-hukum tertentu atas satu atau lebih aspek yang berhubungan dengan spesialisasi studi mahasiswa. Albough dalam buku Thesis Writing melihat beberapa perbedaan antara thesis dengan field study dan term paper, yaitu : a. Term paper dan field study biasanya hanya dibaca oleh beberapa orang saja, yaitu mahasiswa itu sendiri, dosen, dan mungkin beberapa teman. Umumnya term paper dan field study dikembalikan ke mahasiswa setelah diperiksa oleh dosen. Oleh karena itu bila sudah selesai, naskah akan segera dilupakan orang. Sebaliknya suatu thesis sekali sudah diketik, dijilid, dan diserahkan ke fakultas (departemen atau akademik) maka akan menjadi milik perpustakaan atau universitas. Thesis itu akan dapat dilihat dan dibaca oleh setiap orang yang memerlukannya. Sepanjang belum ada kenyataan-kenyataan atau bukti-bukti lain yang menyangkal kebenaran penemuan-penemuan yang dikemukakan dalam thesis tersebut, maka pendapat-pendapat itu masih akan dipandang benar. Karena itu penulis suatu thesis harus berhati-hati, bukan karena thesa-thesa yang dikemukankannya dipandang sebagai kebenaran dan dijadikan dasar dedukasi, tetapi juga karena thesis merupakan monumen abadi dimana penyusunnnya dapat menunjukan kecakapan atau ketidak-mampuannya. b. Dari suatu thesis biasanya dibuat abstracts, suatu hal yang tidak perlu dilakukan pada paper. Abstrak ini diterbitkan oleh fakultas atau universitas yang memberikan gelar, dan disebarkan secara luas. Dengan begitu maka penemuan-penamuan dari suatu thesis akan menjadi milik umum dan bersamaan dengan ini akan tersebar nama baik atau nama buruk dari penulisnya. 4. Disertasi Thesis dipersiapkan untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Doktorandus, Master Of Arts, Master Of Siences, atau gelar-galar lain yang sederajat. Disertai dipersiapkan untuk mencapai puncak dari suatu gelar perguruan tinggi: Doktor (DR) atau Philosophical Doktor (Ph.D). Tidak banyak perbedaan antara thesis dan disertai, kecuali dalam intensitas dan ekstensi pokok persoalan yang dijadikan titik pusat riset. Desertai jelas harus lebih luas, lebih mendalam dan terperinci (exbausted). Konklusinya harus mempunyai kemungkinan generalisai yang lebih luas dari pada thesis. Atas dasar pengtahuan-pengetahuan spesialisasinya, seorang penyusun disertai (disebut promovendus) harus mampu bekerja sendiri semampunya. 8. Catatan Penutup Beberapa hal yang melatar-belakangi metodologi riset telah dibeberkan secara singkat. Barangkali suatu gambaran kasar telah dapat kita ambil tentang apa yang membayangi manusai dalam hidup sehari-hari, jenis-jenis riset yang bisa dilakukan oleh para ahli, bagaimana perkembangan metodologi riset dari awal sampai sekarang, apa yang menjadi unsur-unsur hakiki dan berfikir reflektif dan bagaimana proses-proses esensial dan riset ilmiah memiliki garis-garis yang sejajar dengan proses-proses berfikir reflektif itu. Oleh karena ada bermacam-macam riset yang harus dilakukan oleh para mahasiswa sewaktu hendak menyusun thesis ataupun disertasi, maka dibahas juga tipe-tipe riset disertasi perguruan tinggi agar mereka yang belajar metodologi riset mengetahui dengan jelas dimana ia harus berdiri pada saat ia melakukan riset. Kiranya baik juga diketengahkan bahwa salah satu tugas di perguruan tinggi adalah memberikan dasar-dasar pengetahuan yang cukup kepada para mahasiswa agar mereka dapat menjadi salah satu pihak yang dapat memelihara, membina, dan mengembangakan ilmu pengetahuan yang menjadi spesialisasinya. Metodologi riset memikul tugas ini, salah satu dharma dari Tridharma Perguruan Tinggi Indonesia. Mata kuliah ini baru boleh dikatakan berhasil jika dapat merangsang calon-calon sarjana untuk menjadi seorang warga ilmiah yang research minded, yang pada kesempatan-kesempatan yang ada padanya mampu bergerak secara aktif dalam bidangnya. Tugas ini tidaklah terlalu berlebihan dan pelaksanaanya masih harus dibuktikan. PENDAHULUAN Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka berkembang pula alat-alat canggih yang dapat membantu kita dalam mengerti perkembangan tersebut. Sebagai penduduk suatu negara, kita harus dapat mengikuti perkembangan yang terjadi di negara kita maupun di negara lain. Sehingga kita tidak akan ketinggalan oleh negara lain. Ilmu pengetahuan yang dipelajari mahasiswa selama perkuliahan pada umumnya bersifat teori dan mengacu pada keadaan ideal yang berbeda dengan kenyataan dilapangan. Langkah awal bagi mahasiswa untuk merasakan terjun langsung dalam lingkungan Dengan menyaksikan langsung apa yang ada dilapangan, akan meningkatkan wawasan dan pemahaman mahasiswa dalam bidang dunia kerja khususunya di bidang teknik mesin sehingga mahasiswa akan mempunyai kemampuan yang lebih efisien dalam melakukan suatu perencanaan, pemeliharaan atau perawatan, memahami pegoperasian mesin dan proses untuk menghasilkan suatu produk, serta mampu mengembangkan teknologi yang ada dilingkungan pabrik atau perusahaan tersebut. Semua ini sangat perlu untuk mempersiapkan tenaga kerja yang professional, berwawasan tinggi dan memiliki kemampuan yang baik. Salah satu alat yang dapat kita sebut canggih adalah GPS, yaitu Global Positioning System. Dalam makalah ini kami membahas mengenai apa itu GPS dan apa manfaat GPS bagi kehidupan kita. Tujuan Tujuan pembuatan makalah mengenai Metodologi Riset ini, adalah untuk mendapatkan informasi mengenai Metodologi Riset. Diharapkan dengan adanya makalah ini, pembaca dapat lebih mengerti mengenai Metodologi Riset dengan lebih jelas.

Reblog this post [with Zemanta]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: